Jakarta and Bandung as the places of “Asian African Conference Commemoration Indonesia 2015”.

Tulisan Ini bukan menceritakan tentang rangkaian kegiatan “Asian African Conference Commemoration Indonesia 2015”, melainkan tentang dua kota besar (Jakarta dan Bandung) yang dipilih sebagai tempat konferensi tersebut berlangsung. Hari ini, 24 Januari 2015, seluruh sekolah, perkantoran, dan Mall di Bandung diliburkan secara serentak terkait pengamanan untuk menyambut para tamu negara Konferensi Asia Afrika (KAA) dalam puncak peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika. Jika aku masih tinggal di Bandung, mungkin aku akan meramaikan pesta rakyat (ikut menikmati pesta). hehee…
Pada 25 April 2015, akan ada “Asian African Parade: A costume & Percussion Street Festival” yang digelar di Jalan Asia Afrika. Sedangkan pada 26 April 2015, akan ada “Festival of Nations” di sepanjang jalan Dago. Kedua acara kesenian dan kebudayaan tersebut yang membuatku ingin sekali ke Bandung. Tapi apa daya, untuk kali ini aku tidak bisa ke sana, mungkin hanya bisa lihat di TV atau youtube. hehee…

Bagaimana dengan Jakarta? Kebetulan, tadi pagi aku ke kawasan Sudirman, Jakarta. Setelah ke luar dari Stasiun Sudirman, ternyata jalanan terlihat lengang dan dijaga oleh tentara. Tidak banyak kendaraan yang melintas di sepanjang jalan tersebut. Mungkin hanya sepeda motor dan beberapa busway saja. Jadi, aku pun ikut berjalan kaki bersama para karyawan yang hendak menuju kantor masing-masing. Seru sih.. berasa lagi jalan sehat.😀
Tapi karena cuacanya agak panas, cukup membuat badan terasa lelah dan wajah menjadi kusam. Huhft…

12

This picture is blur due to be taken while walking.

Setelah jam 8 pagi, barulah jalanan dipadati lagi oleh kendaraan, macet, kecuali jalur busway.

Sepertinya memang benar, jumlah kendaraan pribadi di Jakarta sudah terlalu banyak, terutama mobil. Seandainya cuaca di Jakarta cenderung bersahabat dan tidak berpolusi, mungkin akan banyak warga Jakarta yang lebih memilih menggunakan sepeda daripada mobil. Mungkin… just argued. *wink*

KAA-60

The flags of the Asian-African countries along Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta.

25 y.o

Kapan Nikah

Beberapa hari yang lalu, aku berulang tahun yang ke-25. Tidak terasa, atau malah sangat terasa, ternyata aku bertambah tua.😀
Bagi sebagian besar wanita Indonesia, usia 25 tahun adalah usia yang “sesuatu” banget. Kenapa? karena wanita Indonesia umumnya menganggap usia 25 tahun sebagai patokan usia untuk menikah. You know what? Bagi yang telah memiliki pasangan, tentu usia 25 tahun bukanlah sebuah masalah. Tapi bagi yang “jomblo” alias single seperti aku, itu adalah masalah besar. Oh God!

Biasanya, masalah mulai timbul ketika seluruh keluarga berkumpul saat merayakan hari besar, misalnya hari raya Idul Fitri atau Natal. Para anggota keluarga (kecuali keluarga inti) akan bertanya-tanya dengan nada penasaran, bahkan cenderung menyudutkan, dengan sebuah pertanyaan besar, “Kapan nikah?”. *Tepuk jidat*
Jika sudah seperti itu, para wanita single akan menjawabnya dengan beribu-ribu alasan. Alasan yang paling sering diutarakan adalah “masih ingin meniti karir”, “masih belum bertemu pria yang tepat”, “ingin melanjutkan sekolah”, dan beberapa alasan lain yang mungkin terdengar ngeless kayak bajaj. Hahaa…

Masalah berikutnya adalah ketika para wanita single menyadari bahwa semua sahabatnya telah menikah, bahkan telah memiliki anak. Biasanya ini terjadi ketika acara reuni sekolah/kampus. Para sahabatnya sibuk menggendong bayi mereka sambil membicarakan keadaan pertumbuhan anak-anak mereka, sementara para wanita single hanya bisa tersenyum sambil berdoa di dalam hati supaya dapat segera menikah. Miris yaa…😦

Aku pribadi, alasan mengapa aku belum menikah, lebih tepatnya belum memiliki pasangan, adalah karena belum bertemu dengan pria yang tepat. Mendapatkan pasangan yang tepat memang tidak mudah, tapi bukan berarti sulit. So, just believe in God, setiap orang pasti memiliki pasangannya masing-masing. Keep smiling and praying…🙂

Peace and love. (^_^)

2014 Parungpanjang Flood

Ternyata musim hujan di tahun ini tidak berlangsung lama yaa… Sejak pertengahan bulan Februari sudah mulai tidak turun hujan, dan kembali kepada musim kemarau. Membuatku rajin menyiram tanaman lagi.😀

Jika diingat, tahun 2014 adalah tahun dimana ada banjir di mana-mana, termasuk di sekitar rumahku. Pada Februari 2014, aku melihat banjir merendam sebagian rumah di sekitar rumahku untuk pertama kali. Menurut tetangga ku, air pada banjir tersebut merupakan air kiriman dari Bogor. Sedikit terdengar aneh, karena bagaimana pun juga wilayah rumahku termasuk wilayah Bogor. Jadi, Bogor mengirim air ke Bogor?? hehehee…

Berikut adalah foto-foto situasi banjir yang terjadi di sekitar rumahku pada Februari 2014 :

1a

When the flood was still ankle-deep level.

4a

Already tight-high flood.

5a

My house and all of the houses next to my house, are higher than the houses across the street.

7

The 2014 Parungpanjang flood.

Banjir tersebut tidak berlangsung lama. Ketika hari mulai sore, banjir surut perlahan-lahan.🙂
Jika sedang terjadi banjir, yang merasa senang adalah anak-anak. Kenapa? karena mereka cenderung senang bermain air, dan tidak peduli jika air tersebut kotor.😀
Tapi terkadang, orang dewasa juga ikut bermain air. Coba lihat salah satu gambar di atas, ada seseorang yang bersantai mengelilingi banjir dengan menggunakan ban mobil. Kreatif yaa! Tidak perlu perahu karet.😀

This is my story, what is your story?🙂
Enjoy reading my posts! Thanks for visiting my blog.🙂